SUMENEP,Lacak.co.id – Program balik gratis yang digagas Pemerintah Kabupaten Sumenep pasca-Lebaran 2026 dinilai bukan sekadar bantuan sosial, melainkan langkah strategis membuka akses pendidikan yang lebih merata.
Ribuan santri dari wilayah kepulauan, termasuk Sapudi, kini dapat kembali ke pondok pesantren tanpa harus memikirkan ongkos perjalanan yang selama ini kerap menjadi beban keluarga.
Program ini sekaligus menjawab tantangan geografis yang selama bertahun-tahun membatasi mobilitas pelajar berbasis pesantren.
Koordinator Pengurus Rayon IKSASS Sapudi, Mahrus Ali, menilai kebijakan tersebut memberi dampak langsung bagi keberlangsungan pendidikan santri.
Selain meringankan biaya, kepastian jadwal keberangkatan juga membuat para santri bisa kembali tepat waktu ke pondok.
Menurutnya, inisiatif pemerintah daerah ini menjadi solusi konkret atas persoalan transportasi laut yang selama ini dihadapi santri dari daerah kepulauan.
“Kami sangat berterima kasih kepada Bupati dan Wakil Bupati Sumenep atas adanya fasilitas kapal gratis ini. Program ini benar-benar membantu para santri untuk kembali ke Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah tanpa harus terbebani biaya,” ujarnya.
Tak hanya simbolis, program ini juga ditopang dukungan anggaran yang cukup signifikan. Dari alokasi sekitar Rp300 juta, Pemkab Sumenep mampu menyediakan kuota bagi kurang lebih 4.000 santri untuk mengikuti program balik gratis tahun ini.
Distribusi layanan difokuskan pada rute-rute strategis dari kepulauan menuju daratan, salah satunya jalur Sapudi–Pelabuhan Kalianget yang menjadi akses utama menuju pusat pendidikan di wilayah darat.
Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, menegaskan bahwa program ini merupakan bentuk keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat kepulauan, khususnya dalam mendukung pendidikan berbasis pesantren.
Ia menekankan bahwa tidak boleh ada santri yang tertunda kembali belajar hanya karena kendala biaya transportasi. Pemerintah daerah, kata dia, akan terus mengembangkan program serupa agar manfaatnya semakin luas.
Bupati menegaskan, Pemkab Sumenep tidak ingin hanya memfasilitasi perjalanan, tetapi juga memperkecil kesenjangan akses pendidikan antara wilayah daratan dan kepulauan.
“Program ini kami hadirkan sebagai bentuk perhatian kepada para santri, terutama dari kepulauan, agar mereka bisa kembali ke pondok dengan aman tanpa terbebani ongkos perjalanan. Ke depan, kami akan terus berupaya memperluas layanan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat,” pungkasnya.(*)









