Akademi Jurnalistik, PWI Sumenep Kupas PPRA di DJTL LPM Retorika UPI

  • Whatsapp
Oplus_131072

SUMENEP,Lacak.co.id Pedoman Pemberitaan Ramah Anak (PPRA) menjadi materi utama dalam Akademi Jurnalistik Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumenep, pada Diklat Jurnalistik Tingkat Lanjut (DJTL) bersama LPM Retorika Universitas PGRI Sumenep (UPI), Jumat (01/05/2026).

Dewan Penasehat PWI Sumenep, Moh. Rifa’i, mengatakan, materi tersebut dapat menjadi upaya penguatan pemahaman calon jurnalis muda agar lebih berhati-hati dan bertanggung jawab dalam memberitakan isu yang melibatkan anak, termasuk kasus kekerasan seksual.

Bacaan Lainnya

Pria yang juga hadir sebagai pemateri itu mengingatkan, bahwa posisi jurnalis bukan sekadar penyampai informasi, melainkan pihak yang akan menentukan bagaimana sebuah peristiwa dipahami publik.

Maka dari itu, menurutnya, kekeliruan dalam menyajikan berita bisa berdampak panjang, terutama ketika identitas atau sisi sensitif korban justru dinarasikan secara terang-terangan.

Dia menilai, anak yang sudah menjadi korban dalam sebuah peristiwa tidak seharusnya kembali “terluka” akibat pemberitaan. Selain itu, Rifa’i menyebut, jika tidak hati-hati, media justru dapat memperpanjang beban psikologis yang mereka alami.

“Seharusnya kita lindungi itu, karena kalau kita membuka aibnya, itu bisa membuat korban mengalami trauma dua kali,” ujarnya.

Ia menambahkan, persoalan tersebut, bukan hanya soal empati, tetapi juga menyangkut tanggung jawab profesional dan konsekuensi hukum yang bisa muncul jika jurnalis mengabaikan aturan.

Karena itu, ia menekankan pentingnya menjadikan Kode Etik Jurnalistik, Undang-Undang Pers, serta regulasi perlindungan anak sebagai pijakan utama dalam setiap proses peliputan dan penulisan berita.

Rifa’i juga menilai, penguatan materi PPRA dalam forum seperti DJTL menjadi langkah penting, karena isu ini masih sering terlewat dalam pembahasan jurnalistik yang lebih umum.

“PWI harus hadir juga untuk mempertebal ilmu itu sehingga berita tidak serampangan, karena ada juga persoalan atau konsekuensi hukumnya,” lanjutnya.

Anggota LPM Retorika UPI Sumenep, Fakhrul Kurniawan menyampaikan, dirinya mendapatkan banyak manfaat dari pemaparan materi yang disampaikan oleh para narasumber.

Dia mengaku, bahwa kegiatan tersebut, telah memberikan pemahaman praktis yang sebelumnya belum ia dapatkan secara mendalam.

Lebih lanjut, ia berharap kolaborasi antara LPM Retorika dan PWI Sumenep dapat terus berlanjut, tidak hanya dalam kegiatan pelatihan, tetapi juga dalam bentuk pendampingan saat mahasiswa menghadapi persoalan jurnalistik di lapangan.

“Banyak menambah wawasan saya tentang bagaimana kode etik ketika jurnalis turun ke lapangan meliput suatu peristiwa,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua PWI Sumenep Faisal Warid menegaskan, bahwa kegiatan Akademi Jurnalistik merupakan bagian dari komitmen organisasi dalam mencetak jurnalis muda yang profesional dan beretika.

Ia menambahkan, PWI Sumenep membuka ruang seluas-luasnya bagi mahasiswa untuk terus belajar dan berkolaborasi, baik melalui konsultasi, pelatihan lanjutan, maupun kesempatan magang bersama wartawan.

“Kami sangat terbuka, ketika teman-teman ingin berkonsultasi, menambah ilmu, bahkan jika ingin magang bersama wartawan PWI, kami terbuka untuk itu,” pungkasnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *